Jumat, 18 Mei 2012

cara mengakali mesin fingerprint

warning :sebelumnya saya cuma mengingatkan kepada para agan sekalian sebaiknya jangan mengikuti cara seperti ini (walaupun sebenarnya saya sudah pernah mempraktekkannya heheheh ups keceplosan aku ini) karena saya mempost untuk /sekedar menmberitahukan kepada para pemirsah sekalian bagaimana cara yang dilakukan oleh orang yg "begitulah" visa dibilang cerdas bisa dibilang culas bisa juga dibilang dodolipet so watch it...
Telah menjadi permakluman umum bahwa tidak ada sidik jari yang identik di dunia ini, sekalipun diantara dua saudara kembar. Menurut para ilmuwan, diantara 5 juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia yang sama baru akan terjadi lagi 300 tahun kemudian. Sidik jari sendiri sebenarnya adalah gurat-gurat yang terdapat di kulit ujung jari. Berfungsi untuk memberi gaya gesek lebih besar agar jari dapat memegang benda lebih erat.

Meskipun pada awalnya lebih populer untuk melacak pelaku kejahatan dan kepentingan ilmu pengetahuan, alat pendeteksi sidik jari kini telah meluas penggunaannya ke ranah komersial. Efisiensi menjadi alasan penggunaan sistem identifikasi sidik jari di berbagai perusahaan. Alat ini mendorong penghematan waktu, tenaga, dan menjamin keamanan. Penggunaan nyata sistem/alat identifikasi sidik jari adalah pada alat absensi yang mampu membuktikan kehadiran karyawan (absensi) secara akurat. Penggunaan absensi sidik jari lebih efektif karena berhubungan langsung dengan karyawan. Jika karyawan tidak masuk, bolos, atau telat, dapat langsung diketahui. Hal ini berbeda dengan sistem pencatatan yang rentan dimanipulasi, contohnya penitipan absensi kepada rekannya.

Selama ini dipercaya bahwa mengakali alat deteksi sidik jari merupakan hal yang mustahil dengan alasan sidik jari adalah unik. Namun bagaimana kalau seandainya orang yang punya jari tersebut dipotong, kemudian dibawa ke mesin biometrik sidik jari? Atau orangnya sendiri ditodong kemudian disuruh untuk mengautentikasikan sidik jarinya ke mesin identifikasi? Seorang profesor matematika bahkan menemukan cara yang sangat sederhana untuk mengakali mesin biometrik sidik jari. Apa yang dilakukannya menjadi berita utama di barat dan telah ditulis dalam artikel berjudul Gummy Bears Defear Fingerprint Sensors.

Adalah seorang profesor matematika dari Jepang, Tsutomu Matsumoto menggunakan gelatin (gel atau agar-agar) dan cetakan plastik untuk menghasilkan gummy (semacam permen karet) dengan sidik jarinya ada di gummy tersebut. Dengan gummy itu ia dapat mengakali 11 sistem autentikasi sidik jari dengan tingkat keberhasilan berhasil 4 kali dari 5 kali usaha atau sekitar 80 persen. Dilaporkan bahwa metode Profesor Matsumoto dapat digunakan untuk memroses sidik jari yang ditinggalkan seseorang di gelas dengan cara dipindahkan dan dibuat jari palsu dari bahan jelly.

Bahan gummy sangatlah sederhana dan murah, tanpa teknologi tingkat tinggi. Dengan bahan yang tidak lebih dari 10 dolar, dia dapat mengakali peralatan canggih dari optical dengan fitur live finger sensor. Dan uniknya penggunakan jari palsu dari bahan jelly ini bisa digunakan untuk mengakali sensor yang dijaga, hanya dengan menempelkan jari palsu jelly ke jari, sehingga pada saat menekan jari ke alat sensor akan tidak terlihat oleh penjaga sekalipun dan sesudahnya bahan tersebut bisa dimakan untuk menghilangkan bukti.

Betapa kita menjadi saksi kecerdikan (cerdas dan licik) manusia yang tentu saja mampu mengalahkan alat yang notabene juga diciptakan oleh manusia. Disinilah akal budi menjadi batasan moral apakah gummy bears defeat fingerprint sensor atau gummy bears defeat honesty. Di Indonesia bahkan tidak perlu jelly untuk mengakali mesin absensi, tapi cukup dengan “surat tugas”.

Sebagai karyawan sekaligus pengguna seyogianya melihat absensi sidik jari sebagai bagian dari upaya untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban secara lebih akurat. Seandainya telah tercipta kesadaran bahwa masuk tepat waktu merupakan bagian dari hak dan kewajiban sebagai karyawan dan bukan sekedar memenuhi deadline absensi atau takut dipotong tunjangannya karena TL (terlambat), maka keberadaan absensi biometrik sebenarnya hanya berfungsi sebagai pendukung statistik SDM (sumber daya manusia) organisasi semata. Absensi adalah bagian dari proses pembentukan budaya organisasi dan bukan tujuan.



 


 sumber

http://www.reform.depkeu.go.id/data/news/file/Sidikjari.htm




 nah nih tips juga buat para petugas absensi  agar lebih waspada dengan kelakuan para pegawai di organisasi tempat mereka bernaung yah tapi intinya kembali lagi ke diri kita sendiri, seperti pesan saya sebelumnya...don't try this okeh wasslam :D



















 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar