warning :sebelumnya saya cuma mengingatkan kepada para agan sekalian sebaiknya jangan mengikuti cara seperti ini (walaupun sebenarnya saya sudah pernah mempraktekkannya heheheh ups keceplosan aku ini) karena saya mempost untuk /sekedar menmberitahukan kepada para pemirsah sekalian bagaimana cara yang dilakukan oleh orang yg "begitulah" visa dibilang cerdas bisa dibilang culas bisa juga dibilang dodolipet so watch it...
Telah menjadi permakluman umum bahwa tidak ada sidik jari yang identik di
dunia ini, sekalipun diantara dua saudara kembar. Menurut para ilmuwan,
diantara 5 juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia
yang sama baru akan terjadi lagi 300 tahun kemudian. Sidik jari sendiri
sebenarnya adalah gurat-gurat yang terdapat di kulit ujung jari. Berfungsi
untuk memberi gaya gesek lebih besar agar jari dapat memegang benda lebih
erat.
Meskipun pada awalnya lebih populer untuk melacak pelaku kejahatan dan
kepentingan ilmu pengetahuan, alat pendeteksi sidik jari kini telah meluas
penggunaannya ke ranah komersial. Efisiensi menjadi alasan penggunaan sistem
identifikasi sidik jari di berbagai perusahaan. Alat ini mendorong
penghematan waktu, tenaga, dan menjamin keamanan. Penggunaan nyata sistem/alat
identifikasi sidik jari adalah pada alat absensi yang mampu membuktikan
kehadiran karyawan (absensi) secara akurat. Penggunaan absensi sidik jari
lebih efektif karena berhubungan langsung dengan karyawan. Jika karyawan
tidak masuk, bolos, atau telat, dapat langsung diketahui. Hal ini berbeda
dengan sistem pencatatan yang rentan dimanipulasi, contohnya penitipan
absensi kepada rekannya.
Selama ini dipercaya bahwa mengakali alat deteksi sidik jari merupakan hal
yang mustahil dengan alasan sidik jari adalah unik. Namun bagaimana kalau
seandainya orang yang punya jari tersebut dipotong, kemudian dibawa ke mesin
biometrik sidik jari? Atau orangnya sendiri ditodong kemudian disuruh untuk
mengautentikasikan sidik jarinya ke mesin identifikasi? Seorang profesor
matematika bahkan menemukan cara yang sangat sederhana untuk mengakali mesin
biometrik sidik jari. Apa yang dilakukannya menjadi berita utama di barat
dan telah ditulis dalam artikel berjudul Gummy Bears Defear Fingerprint
Sensors.
Adalah seorang profesor matematika dari Jepang, Tsutomu Matsumoto
menggunakan gelatin (gel atau agar-agar) dan cetakan plastik untuk
menghasilkan gummy (semacam permen karet) dengan sidik jarinya ada di
gummy
tersebut. Dengan gummy itu ia dapat mengakali 11 sistem autentikasi sidik
jari dengan tingkat keberhasilan berhasil 4 kali dari 5 kali usaha atau
sekitar 80 persen. Dilaporkan bahwa metode Profesor Matsumoto dapat
digunakan untuk memroses sidik jari yang ditinggalkan seseorang di gelas
dengan cara dipindahkan dan dibuat jari palsu dari bahan jelly.
Bahan gummy sangatlah sederhana dan murah, tanpa teknologi tingkat tinggi.
Dengan bahan yang tidak lebih dari 10 dolar, dia dapat mengakali peralatan
canggih dari optical dengan fitur live finger sensor. Dan uniknya
penggunakan jari palsu dari bahan jelly ini bisa digunakan untuk mengakali
sensor yang dijaga, hanya dengan menempelkan jari palsu jelly ke jari,
sehingga pada saat menekan jari ke alat sensor akan tidak terlihat oleh
penjaga sekalipun dan sesudahnya bahan tersebut bisa dimakan untuk
menghilangkan bukti.
Betapa kita menjadi saksi kecerdikan (cerdas dan licik) manusia yang tentu
saja mampu mengalahkan alat yang notabene juga diciptakan oleh manusia.
Disinilah akal budi menjadi batasan moral apakah gummy bears defeat
fingerprint sensor atau gummy bears defeat honesty. Di Indonesia bahkan
tidak perlu jelly untuk mengakali mesin absensi, tapi cukup dengan “surat
tugas”.
Sebagai karyawan sekaligus pengguna seyogianya melihat absensi sidik jari
sebagai bagian dari upaya untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban secara
lebih akurat. Seandainya telah tercipta kesadaran bahwa masuk tepat waktu
merupakan bagian dari hak dan kewajiban sebagai karyawan dan bukan sekedar
memenuhi deadline absensi atau takut dipotong tunjangannya karena TL (terlambat),
maka keberadaan absensi biometrik sebenarnya hanya berfungsi sebagai
pendukung statistik SDM (sumber daya manusia) organisasi semata. Absensi
adalah bagian dari proses pembentukan budaya organisasi dan bukan tujuan.
sumber
http://www.reform.depkeu.go.id/data/news/file/Sidikjari.htm
nah nih tips juga buat para petugas absensi agar lebih waspada dengan kelakuan para pegawai di organisasi tempat mereka bernaung yah tapi intinya kembali lagi ke diri kita sendiri, seperti pesan saya sebelumnya...don't try this okeh wasslam :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar